Rabu, 18 November 2015

BERITA 16


Dobrak Jiwa Mahasiswa Lewat Akustik

TANJUNGPINANG- Mahasiswa tidak  sekadar mengejar lulus sarjana itulah yang tertanam dalam prinsip organisasi. Setelah lama vakum kegiatan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)  Fakultas Teknik akhirnya menggelar adu kreasi Band Akustik dalam Screwbazz 2015 di lingkungan Rektorat Kampus Senggarang, Universitas Maritim Raja Ali Haji, 16-17 November 2015 kemarin.

Ketua pelaksana Dede Irpan mengatakan hal yang menarik dari lomba Band Akustik adalah mahasiswa diberi kebebasan untuk mengaransemen lagu dengan paduan alat  musik yang sederhana. Selain itu, akustik juga tercatat sebagai lomba yang jarang dilaksanakan dan berhasil menggait peserta terbanyak dari pelbagai Kampus yang ada di Tanjungpinang seperti Poltekes, STAI, Stisipol, STIE dan STIKES.

Dengan mengangkat tema Generasi Berprestasi, Cinta Lingkungan dan Anti Narkoba para peserta menampilkan kreasi seni akustiknya dengan variasi yang berbeda. “Lagu Iwan Fals berjudul Bongkar menjadi lagu favorit peserta karena di dalamnya mengandung pesan untuk mendobrak jiwa manusia ,” kata kabid pendidikan, Iis Rahayu.

Banyak lagu yang dibawakan dengan instrument musik yang berbeda, sambung Iss gendang beralas meja dan botol berisi kerikil pun menjadi alat yang merdu sebagai pengiring musik akustik. “penampilan dari setiap personil band akustik yang ikut itu memukau para penonton karena ide kreatif penggunaan alat musik selain gitar dan lagu yang dibawakan juga beda, rata-rata berkaitan benget dengan tema Screwbazz ini,” ujar salah seorang peserta dari STIE.

Acara yang berlangsung selama dua hari itu juga menggelar lomba seperti parade Go Green, fotografi, film dokumenter, Pidato Bahasa Inggris, Stand Up Comedy , dan orasi ilmiah. Selain itu, BEM FT UMRAH sebagai pelopor Screwbazz 2015  juga menggelar bazar yang diikuti oleh 12 stan berasal dari STIE, STIKES dan UMRAH untuk menyempurnakan acara tersebut.

Wakil dekan 1 Fakultas teknik, Ibnu Kahfi Bachtiar membuka dan mengapresiasi acara ini. Dalam sambutannya beliau mengharapkan kegiatan yang baru pertama kali digelar Fakultas Teknik ini dapat menuangkan kreatifitas dan aspirasi mahasiswa yang nantinya dapat mendarah daging di dalam jiwa generasi muda.

“Kita buktikan bahwa UMRAH bukan kampus yang tergolong jauh dari prestasi, dengan sejumlah mahasiswa yang ingin maju maka lanjutkan dan bermimpilah. Karena semua hal positif yang dilakukan oleh generasi muda adalah sebagai tonggak kuat agar budaya Indonesia tidak goyah,” paparnya.

BERITA 15

Meski Cacat Tetap Tangguh
Kisah Mahasiswa Miskin yang Tak Dapat Perhatian Dari Pemerintah

TANJUNGPINANG-Penuh dengan keterbatasan tidak menghalangi Roni dalam meraih cita-citanya. Pria yang lahirpada 4 Oktober 1991 ini adalah mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di Kota Tanjungpinang, yang begitu berprestasi dalam pendidikan namun saying tidak sama sekali diperhatikan oleh pemerintah.

Kemiskinan sangatlah akrab dengan kehidupan Roni, namun meskipun orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya keperguruan tinggi karena tidak mempunyai biaya, bukan berarti pendidikannya hanya sekedar tamatan SMA. Roni tidak ingin seperti saudara-saudaranya yang lain, pendidikan hanya sebatas SD. Dia nekat melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang yang lebih baik daripada saudaranya yang lain.

Roni adalah anak kelima dari delapan bersaudara, Ia ingin merubah nasib dari keluarganya dengan berpisah untuk melanjutkan pendidikannya ke Kota Tanjungpinang walaupun tidak mendapat biaya dari ibunya. Satu harapannya, ia ingin membahagiakan ibunya dan merubah nasib keluarganya agar lebih baik di masa yang akan datang. Walaupun tidak pernah dibiayai oleh orang tua selama sekolah, itu sama sekali tidak membuat ia putus harapan. Roni nekat untuk berusaha membiayai pendidikannya  sendiri.

Salah satu sumber biaya yang menjadi harapan Roni adalah bantuan dari pemerintah daerah maupun provinsi, tapi sampai dengan detik ini tidak ada sama sekali bantuan yang datang dari pemerintah. “Padahal proposal bantuan mahasiswa yang tidak mampu sudah banyak ia layangkan ke pemerintah agar mendapat bantuan biaya pendidikan,”ungkap Roni.

Roni mengatakan selama kuliah ia tidak pernah mendapat kiriman uang dari orang tuanya, kalau pun dikirim itu tiga atau empat bulan sekali sebanyak Rp200 ribu, namun ia tidak mengharapkan itu semua . Roni yakin kalau ada kemauan yang keras pasti akan ada jalannya. Pada awal pertama kali menginjak kaki  diTanjungpinang ia tinggal dengan temannya yang masih satu kampong dengannya. Setelah beberapa lama ia memilih untuk mencari tempat tinggal sendiri.

Roni mengaku untuk membiayai kuliahnya ia harus berkerja sebagai penjual pulsa agen dari temannya. Di sanalah ia mendapat sedikit upah. Tidak hanya itu, ia juga membantu temannya berjualan minyak wang. Ia juga mendapat upah dari penjualan itu. Roni tidak malu melakukan pekerjaan apa pun untuk  biaya pendidikannya selagi itu halal untuk ia kerjakan.

Pria yang lahir di sebuah pulau kecil di kecamatan Senayang Kabupaten Lingga ini sangatlah berprestasi dalam bidang  pendidikan. Segenap prestasi pernah ia torehkan selama duduk di bangku SMA. Prestasi yang paling ia banggakan adalah mendapat juara 2 olimpiade metematika SMA sekabupaten lingga. Roni juga pernah menjadi duta Terumbu Karang perwakilan siswa Kabupaten Lingga untuk tingkat nasional di Jakarta.

Sejak tamat SekolahDasar, Roni sudah berpisah dengan kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP, hal ini karena di kampong halamannya tidak mempunyai SMP yang memaksakan ia harus pisah dengan orang tua. Untuk melanjutkan ke jenjang SMP itu pun atas inisiatifnya sendiri. Waktu SMP ia diasuh oleh saudara dari ibunya. Semasa itu orang sangat simpati kepadanya, sepulangnya dari sekolah ia harus membantu orang rumahnya untuk berdagang dan pergi ke laut menjadi nelayan.

Walaupun tidak seperti manusia biasa yang mempunyai anggota tubuh yang lengkap, keterbatasan fisiknya tidak membuat ia malu untuk menuntut ilmu di kampung orang. Cercaan dan hinaan sudah menjadi hal biasa baginya. Mahasiswa alumni SMAN 1 Senayang ini juga aktif dalam berbagai organisasi di dalam kampus maupun luar kampus. Ini sudah menjadi hal yang tidak asing lagi baginya karena waktu duduk di bangku SMA dia juga sangat aktif dalam berorganisasi.

BERITA 14


Ular Piton Kagetkan Pengendara Motor
TANJUNGPINANG-Seekor ular piton berukuran 6,5 meter dengan berat 10 kilogram mengagetkan pengendara motor yang melintas di sekitaran Batu Enam, Jalan Kijang Lama, Selasa (13/11) siang. 

Johari, seorang pengendara motor yang menemukan ular tersebut mengatakan ular tersebut dalam keadaan melilit di dahan pohon akasia. “Ular ini seperti nya baru selesai makan dan kekenyangan karena kita mudah saja waktu menangkapnya,” kata Johari. 

Saat itu Johari tengah perjalanan pulang, sambungnya dari arah lampu merah ke kijang lama batu enam tiba-tiba ia melihat ada ular mengelantung dan melilit di dahan akasia . “kaget lah , untung saya tak jatuh,” ujarnya.

Setelah kejadian tersebut, Johari lekas memanggil warga untuk menangkap ular itu. Sigalagi Hutagalung (45), warga setempat yang yang mendapat informasi langsung mengambil parang dan tali dan menuju lokasi. Ia memotong dahan tempat ular itu bertengger. “Begitu ular itu jatuh langsung kami tangkap dan kami masukkan ke karung,”ujar Sigalagi.

Ular piton yang keliatan tidak beringas itu akhirnya dibawa ke kediaman Opung pangabean (65) yang menurut warga memang Opung menyukai hewan jenis reptile.“ular ini akan saya pelihara sendiri” ungkap nya.

BERITA 13


Kantor dengan Peninggalan Sejarah Melayu
TANJUNGPINANG- Balai Pelestarian Nilai Budaya Kota Tanjungpinang banyak menyimpan arsip dan bukti peninggalan sejarah Melayu. Kantor yang berdiri tahun 1985 ini menyimpan dokumen dan peninggalan sejarah dari empat provinsi di Indonesia, di antaranya provinsi Bangka Belitung, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau.

Kantor yang berdiri di Jalan Pramuka kilometer 4 Kota Tanjungpinang ini melestarikan peninggalan sejarah tersebut dalam bentuk dokumen penting seperti naskah kuno dengan tulisan arab melayu, kumpulan buku cerita rakyat asal tanjungpinang, pakaian adat melayu dan barang-barang antik asli melayu seperti, kendi, mahkota melayu, gelang, topeng makyong dan lain-lain. Selain peninggalan-peninggalan tersebut, Balai ini juga kerap kali mengadakan penelitian-penelitian untuk menilik sejarah melayu di Kepulauan Riau.  

Salah seorang penjaga perpustakaan di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjungpinang, Maswar mengatakan bangunan yang telah digunakan sejak tahun 1986 ini memang menjadi wadah untuk melestarikan peninggalan sejarah Indonesia. Hal itu terbukti dengan pajangan-pajangan berbagai buku ilmu pengetahuan, novel karangan budayawan melayu, peralatan mencari nafkah pada zaman dahulu, naskah kuno asli, dan barang-barang antik melayu yang ada diperpustakaan itu. Sejumlah perlengkapan perkawinan adat melayu dan berbagai peninggalan alat-alat rumah tangga terlihat lengkap di dalam lemari kaca yang berada di perpustakaan tersebut.

“Kantor Balai Pelestarian ini sebenarnya mempunyai museum di Riau, tapi karena banyak peninggalan sejarah melayu di Tanjungpinang makanya kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya ini  didirikan di Kota Tanjungpinang. Karena letaknya berada di daerah melayu makanya kantor ini lebih mengarsipkan peninggalan budaya dan sejarah melayu”. Ujar Maswar (18/11).

Kantor yang didirikan dengan tujuan untuk melestarikan budaya Indonesia ini juga menyimpan  permainan tradisional berupa gasing raksasa asal Bangka Belitung. Gasing yang memiliki berat mencapai 140 Kg dengan diameter tengah dan tinggi 70 cm ini sudah tercatat Muri berputar selama 3 menit 67 detik pada tahun 2006 yang dimainkan 10 orang diantaranya 1 orang pemegang tali, 2 orang pemegang stang, dan 7 orang pemutar gasing.

Selain permainan  tradisional tersebut, Balai ini juga banyak menyimpan buku cerita rakyat asal Kepulauan Riau yang tidak diketahui oleh masyarakat. Di antaranya, Sungai Jodoh, Wak Si dolan, Bujang Sri Ladang, Pusakan Tanjung Penyabung, Laksaman Jangoi, Lancang Kuning dan lain sebagainya. Tentunya hal tersebut butuh perhatian dari kalangan muda dan masyarakat untuk mengingat punahnya cerita rakyat melayu di Kepulauan Riau Khususnya di Tanjungpinang.

BERITA 12


Sewa Genset untuk Pertunjukan

TANJUNGPINANG-Sudah empat bulan Gedung Aisyah Sulaiman tidak bisa digunakan lantaran meteran listrik tersambar petir pada bulan juli lalu. Akibatnya masyarakat mengeluh karena harus menyewa genset dan derek aliran listrik dari PLN yang mengenakan biaya lebih dari biasanya. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Juramadi Esram mengatakan sudah menyurati PLN perihal perbaikan meteran listrik di Gedung tersebut. “ kita menunggu pihak PLN  saja karena pemesanan alat atau panelnya belum datang. Insyaallah dalam waktu dekat ini mungkin bisa kelar mengingat pentingnya gedung ini, karena cuma Gedung  Aisyah saja yang mempunyai bentuk yang memadai,” papar Juramadi.

 “Gedung ini bisa dipakai, Cuma gak ada listriknya jadi kalau mau dipakai harus sewa genset lagi,” ujar Iss penjaga gedung Aisyah Kota Tanjungpinang. Sambungnya, gedung lawas yang kerap kali digunakan untuk berbagai even kesenian ini tiap tahunnya dilaksanakan perbaikan seperti mengganti karpet, perbaikan lantai keramik yang sudah pecah dan pengecatan tembok di dalam ruangan.

Hariadi bagian distribusi kantor PLN Kota Tanjungpinang mengaku akan mengerjakan pemasangan meteran listrik jika barang yang dipesan sudah datang. “untuk waktu tepatnya kapan kita tidak bisa menjanjikan, tapi kalau barangnya datang kami pasti kerjakan karena mereka masih aktif sebagai pelanggan dan tidak ada tunggakan,” terangnya.

Gedung yang masih dalam tanggungan Pemerintah Kota hingga desember ini seyogyanya akan dijaga dan dipelihara. “karena gedung ini termasuk cagar budaya jadi kita harus memelihara dan melaksanakan pembaharuan tiap tahunnya untuk beberapa fasilitas yang rusak dan tak layak digunakan lagi,” tutup Juramadi dikantornya(16/11).